Sering kali kita hidup seperti ini di hadapan Tuhan. Sebagai manusia yang berdosa kita tetap tidak mau mengakui kesalahan kita, meskipun sebenarnnya Tuhan tahu kita yang berbuat dosa. Terkadang kita tidak sadar bahwa yang kita butuhkan adalah pengakuan dosa dan pengampunan. Kita selalu bersembunyi dari hadapan Tuhan karena kita takut di hukum. Tuhan Yesus telah mati di atas kayu salib sebagai ganti dosa kita. Tidak ada satu hal pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, kita hanya perlu datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan mengaku dosa kita di hadapan-Nya. Salib adalah wujud nyata dari kasih-Nya kepada manusia, maka kita juga harus mewujudkan kasih itu kepada sesama kita. Tuhan Yesus memberkati
Weekly Blog
Jumat, 25 Maret 2016
Good Friday
Hari ini saya mendengar sebuah cerita nyata dari khotbah seorang Pendeta yang memiliki empat orang anak. Suatu hari, terjadi sebuah kekacauan di rumahnya. ia bertanya kepada ke empat anaknya mengenai siapa yang melakukan hal tersebut, tetapi tidak ada satu pun yang mengaku. Akhirnya ia dan istrinya memutuskan untuk menghukum ke empat anaknya dengan cara menyuruh mereka melompat tanpa henti hingga ada salah satu dari mereka yang mengakui kesalahannya. Anak sulungnya mulai kelelahan dan kesal karena tidak ada yang mau mengakuinya. Satu per satu mereka mulai berjatuhan, akhirnya Pendeta tersebut mengijinkan mereka beristirahat. Keesokan harinya belum ada juga yang mengaku, dua tiga hari berlalu tetapi mereka tetap diam. Tetapi kali ini ia dan istrinya tahu siapa yang bersalah. Akhirnya ia memutuskan untuk berbicara satu per satu kepada ke empat anaknya, tetapi yang paling ketakutan adalah anak bungsunya. Ia mengeluarkan sebuah ikat pinggang di depan anak bungsunya, tetapi anaknya bersembunyi di bawah meja. Ia tidak bermaksud untuk mencambuknya, ikat pinggang tersebut hanya untuk menakuti sang anak karena ia ingin anaknya mengakui kesalahannya dan kebenaran terungkap. Tiba-tiba anak sulungnya berkata "Ayah jangan pukul dia, biar aku saja yang dipukul". Ia berkata kepada ke dua anaknya bahwa tidak akan ada yang dihukum, yang ia inginkan hanyalah sebuah pengakuan. Akhirnya anak bungsunya mengakui kesalahannya sambil menangis dan ketakutandi hadapan ayahnya. Pendeta tersebut berkata kepada anak bungsunya "Sebagai gantinya, biarkan ibumu yang memukul ayah."
Jumat, 04 Maret 2016
Bertumbuh dalam Anugerah (Part 4)
Teladan Sejarah
Pertumbuhan didapat melalui teladan, pertumbuhan ada
ketika kita setia dan mau untuk melewati masa sulit seperti Daniel. Daniel rela
untuk hidup menurut Firman Allah, ia rela menerima semua konsekuensi yang
timbul karenanya dan ia memegang prinsip sepenuh hati untuk tetap berpaut pada
Allah. Daniel adalah orang yang senantiasa berdoa, baginya mengenal Allah
berarti belajar untuk senantiasa hidup dalam hadiratNya, bahkan ia masih menggali
Firman Allah di akhir hidupnya. Ketika kita menghargai kasihNya, maka
kebaikanNya akan membawa kita untuk terus menghasilkan buah. Mungkin seringkali
kita merasa gagal, seperti yang dialami oleh Petrus, namun melalui kegagalan
itulah kita belajar dan bertumbuh. Petrus mengalami perubahan karakter sehingga
ia menjadi “batu karang yang teguh”. Tuhan menggunakan cara yang berbeda untuk
mendewasakan anak-anakNya, bahkan melalui banyak tantangan sekalipun. Timotius
menghadapi tantangan orang muda dan ia harus bisa menguasai dirinya melawan
godaan, meskipun banyak sekali hal yang menghambatnya untuk bertumbuh, namun
Tuhan senantiasa memperlengkapinya dengan Roh Kudus sehingga ia mampu mengatasi
kelemahannya dan tetap bertumbuh dalam anugerah.
Sabtu, 27 Februari 2016
Bertumbuh dalam Anugerah (Part 3)
Hidup Bersama
Kita sebagai umat Kristen diciptakan untuk hidup bersama
dalam sebuah komunitas yang disebut dengan “Gereja”, karena Gereja juga yang
akan menolong kita untuk bertumbuh menjadi Kristen yang dewasa. Gereja ada bukan hanya sekedar tempat berkumpulnya orang-orang Kristen, lebih dari itu Tuhan telah
menganugerahkan karunia Roh yang berbeda kepada setiap manusia, namun tujuannya
sama, yaitu saling melayani dan mengasihi dalam Gereja sehingga kita sama-sama
bertumbuh dan memuliakan Tuhan. Kasih tidak akan berarti apabila kita tidak
mempraktekkannya, kita memerlukan saudara seiman untuk menunjukkan anugerah dan
kuasaNya dalam hidup kita. Tak jarang kita menemui banyak masalah atau gesekan di antara saudara seiman kita dalam Gereja. Seperti yang telah kita ketahui bahwa besi menajamkan besi dan manusia menajamkan sesamanya, hal ini akan dialami oleh setiap orang sadar atau tidak. Oleh karena itu kita harus belajar untuk
tidak menutup hati kita terhadap
orang-orang yang telah menolong kita untuk bertumbuh secara rohani, karena
ketika kita menutup hati kita terhadap sesama Kristen, berarti kita juga
menutup hati untuk Allah (1 Yohanes 4:20-21), maka kita gagal bertumbuh dalam
anugerahNya.
Bertumbuh dalam Anugerah (Part 2)
Prinsip-prinsip Dasar
Betumbuh dalam anugerah juga berarti kita hidup dalam
takut akan Allah. Alkitab mengajarkan kita agar kita bertumbuh dalam ketakutan
anak, yaitu kita bertumbuh dengan penuh kasih, hormat, sukacita, dan tetap gentar
kepada Allah. Takut terhadap Allah akan menghilangkan rasa takut kita terhadap
hal-hal lain yang menghadang hidup kita (Matius 10:26), selain itu akan menjaga
kita dari perbuatan dosa dan menghasilkan integritas kita sebagai seorang
Kristen. Untuk bisa bertumbuh dalam takut akan Allah kita harus memikirkan
bahwa kita dipilih dan Ia yang memelihara hidup kita dengan penuh kasih, bahkan
Ia menyerahkan nyawaNya untuk menyelamatkan kita. Ketakutan akan Allah adalah
awal dari pertumbuhan rohani yang sejati dan kerinduan untuk mengenalNya adalah
hal yang sangat penting, jika kita tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Allah
itu berarti kita tidak bertumbuh sama sekali. Untuk itu kita harus menggunakan
Firman Tuhan untuk menuntun kita (Mazmur 119:105) dan tetap beribadah kepada
Allah agar kita bisa mendekat dan mengenalNya lebih dalam. Bertumbuh dalam
anugerah juga berati kita harus memikul “Salib” karena salib mendemonstrasikan
kasih Allah, dengan salib kita mengerti bahwa Ia sangat mengasihi kita melalui
kematianNya. Jadi kita harus rela “dihancurkan” dan dibangun kembali dalam
anugerahNya.
Sabtu, 20 Februari 2016
Bertumbuh dalam Anugerah (Part 1)
Kristus adalah Hidupku
Setiap manusia pasti mengalami pertumbuhan dalam hidupnya, baik bertumbuh secara jasmani maupun rohani, bertumbuh dalam anugerah berarti menjadi Kristen yang dewasa dan serupa dengan Kristus, karena Ia adalah dasar yang benar maka kita harus menjadikannya sebagai fondasi pertumbuhan rohani kita. Ketaatan dan penundukan diri merupakan hal yang penting dalam hal ini, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus selama menjadi manusia Ia juga taat dan tunduk pada Allah. Pada waktu di dunia, Tuhan Yesus juga mengalami kesulitan dan berbagai pencobaan dalam perjalananNya bertumbuh dalam anugerah, namun Ia berhasil mengatasi hal tersebut sehingga Ia mampu bertumbuh dalam perkenanan Allah (Roma 8:3). Bertumbuh dalam anugerah juga berarti bertumbuh dalam buah Roh Kudus (Galatia 5:22-23), bertumbuh melalui disiplin hidup dan meresponi setiap tantangan yang kita alami dengan anugerah. Untuk bisa bertumbuh dalam anugerah diperlukan pemahaman yang mendalam akan Alkitab dan hubungan yang intim dengan Allah melalui doa, karena melalui doa kita bisa mendapatkan kekuatan dari Allah (Roma 4:20), dan persekutuan dengan umatNya seperti yang dilakukan Tuhan Yesus di Bait Allah pada usia 12 tahun. Jika kita ingin bertumbuh, kita harus terus berusaha untuk menjadi serupa dengan Allah dan memulai untuk mengikuti teladan Tuhan Yesus. Bukanlah hal yang mudah untuk menjadi serupa dengan Allah, keberdosaan manusia membuatnya sulit untuk melakukan perubahan, Oleh sebab itu Tuhan sendiri yang akan menolong setiap kita untuk bertumbuh di dalam anugerah-Nya.
Senin, 08 Februari 2016
God Knows What's Best for You (Yesaya 55:8-9)
Setiap orang pasti memiliki harapan dalam hidupnya, namun terkadang sebagai manusia kita terlalu memaksakan kehendak kita kepada Tuhan dan berusaha menyetirNya.
Apabila
kenyataan tidak berjalan sesuai harapan, maka kita menjadi kecewa kepada Tuhan.
Ayat ini kembali mengingatkan saya bahwa rencana Tuhan bukanlah rencana
manusia, sebaik dan sesempurna apapun saya merencanakan sesuatu, tetap kehendakNya lah yang
akan terjadi. Rencana Tuhan lebih tinggi dari apapun dan tidak ada seorangpun yang dapat menyelami fikiranNya. Saya belajar untuk tidak menyalahkan Tuhan dalam setiap keadaan
yang terjadi dalam hidup saya meskipun terkadang itu tidak sesuai dengan
harapan saya.
Suatu ketika saya mengikuti tes di sebuah perguruan tinggi swasta, namun karena saya tidak begitu berminat maka saya hanya mengerjakannya asal-asalan. Sebelumnya saya telah berencana untuk mendaftar di sebuah perguruan tinggi negeri Surabaya, saya telah mempersiapkan nilai raport saya mulai dari kelas 10, saya berusaha agar nilai saya semakin baik hingga saya lulus nanti, dan ini berhasil. Hal ini saya lakukan karena perguruan tinggi negeri yang saya inginkan memiliki salah satu syarat yaitu nila raport SMA harus stabil bahkan terus naik. Namun yang terjadi adalah saya tidak diterima di PTN tersebut, sebaliknya saya diterima dimana saya menjalani tes dengan asal-asalan. Saya sempat tidak percaya dengan hasilnya (baik di PTN maupun PTS) karena di satu sisi saya telah melakukan yang terbaik sedangkan di sisi yang lain saya melakukannya dengan asal-asalan. Namun kembali lagi saya menyadari bahwa rencana Tuhan bukan lah rencana manusia. Saya belajar untuk tetap mempercayaiNya dalam segala hal, tetap bersyukur dan tidak kecewa kepadaNya karena rencana Tuhan pasti yang terbaik. Mungkin saya memang belum memahami dengan betul apa yang sedang Ia kerjakan dalam hidup saya, namun satu hal yang saya percaya, Ia akan memberikan yang terbaik untuk hidup saya.
Suatu ketika saya mengikuti tes di sebuah perguruan tinggi swasta, namun karena saya tidak begitu berminat maka saya hanya mengerjakannya asal-asalan. Sebelumnya saya telah berencana untuk mendaftar di sebuah perguruan tinggi negeri Surabaya, saya telah mempersiapkan nilai raport saya mulai dari kelas 10, saya berusaha agar nilai saya semakin baik hingga saya lulus nanti, dan ini berhasil. Hal ini saya lakukan karena perguruan tinggi negeri yang saya inginkan memiliki salah satu syarat yaitu nila raport SMA harus stabil bahkan terus naik. Namun yang terjadi adalah saya tidak diterima di PTN tersebut, sebaliknya saya diterima dimana saya menjalani tes dengan asal-asalan. Saya sempat tidak percaya dengan hasilnya (baik di PTN maupun PTS) karena di satu sisi saya telah melakukan yang terbaik sedangkan di sisi yang lain saya melakukannya dengan asal-asalan. Namun kembali lagi saya menyadari bahwa rencana Tuhan bukan lah rencana manusia. Saya belajar untuk tetap mempercayaiNya dalam segala hal, tetap bersyukur dan tidak kecewa kepadaNya karena rencana Tuhan pasti yang terbaik. Mungkin saya memang belum memahami dengan betul apa yang sedang Ia kerjakan dalam hidup saya, namun satu hal yang saya percaya, Ia akan memberikan yang terbaik untuk hidup saya.
Sabtu, 30 Januari 2016
Happiness vs Joy
Banyak orang, atau
lebih tepatnya semua orang mencari yang namanya kebahagiaan. Ada satu kisah
tentang seorang bernama Agustinus Hippo yang mengalami pergumulan hebat, yaitu
keinginannya mencari kebahagiaan sejati yang memberi kedamaian. Dalam perjalanannya
mencari kebahagiaan, ia melakukan banyak sekali kesalahan. Ia menganggap bahwa
ia bisa mendapatkan kebahagiaan di dalam dunia ini. Ia mulai hidup dengan
bersenang-senang, ia mencuri, terlibat dalam kenakalan remaja, memiliki gaya
hidup yang hedonisme, dan juga sempat mengikuti berbagai aliran filsafat,
bahkan di usianya yang masih muda ia hidup dengan wanita yang bukan istrinya
hingga mempunyai seorang anak.
Sampai suatu saat ia
bertemu dengan Ambrosius yang mempengaruhi hidupnya dan Roh Kudus datang
kepadanya melalui suara seorang anak kecil di taman (ia percaya bahwa itu
adalah suara Tuhan), Roh Kudus membukakan fikirannya bahwa kebahagiaan sejati tidak bisa ia temukan di dalam dunia ini melainkan
Kristus. Ia menyadari bahwa yang ia lakukan selama ini hanyalah sia-sia
karena ia tidak menemukan kedamaian yang ia cari. Agustinus mulai berkomitmen
untuk memutuskan hubungannya dengan dunia ini dan mulai mencari Tuhan, ia
memutuskan melayani Tuhan sampai akhir hidupnya. Kisahnya ini menginspirasi banyak
orang termasuk saya sendiri.
Dalam hidup ini sering
kali manusia berfikir bahwa apabila ia bisa melakukan segala sesuatu yang
menyenangkan di dunia ini maka ia akan mendapatkan kebahagiaan, kita menganggap
bahwa kebahagiaan itu berasal dari dunia. Padahal yang sebenarnya kita butuhkan
adalah kita bisa merasakan kasih Tuhan yang begitu nyata dalam hidup kita.
Ketika kita tinggal dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan maka segala
kebahagiaan yang kita cari akan kita temukan di dalamNya. Ada satu ruang kosong dalam hati kita yang hanya bisa diisi oleh kasih
Tuhan, ketika kita berusaha mengisinya dengan hal dunia, maka saat itulah
kita melakukan hal yang sia-sia.
Kebahagiaan berbeda
dengan sukacita. Dalam bahasa Inggris kebahagiaan = HAPPINESS sedangkan
sukacita = JOY. Apa yang membedakan ? bukankah keduanya terlihat sama ? Kebahagiaan/happiness
adalah hal yang sementara (temporary) sedangkan sukacita adalah kebahagiaan
sejati (eternal). Ketika kita mendapat kepuasan dari dunia itu berarti
sementara dan terbatas, tetapi ketika kita mencari dan mendapat kebahagiaan
dalam Tuhan maka hati kita akan terasa damai dan kita tidak perlu lagi mencari kebahagiaan
dalam dunia yang terbatas ini, because Christ is more than enough for us.
Tuhan dapat memakai segala cara untuk membawa kita
dekat kepadaNya. Ketika Tuhan membuat hati seseorang berbalik kepadaNya, maka
kebutaan rohani akan dibukakan, bahwa kebenaran dan kebahagiaan sejati hanya
ada dalam Yesus Kristus. Gbu
Langganan:
Komentar (Atom)
