Jumat, 25 Maret 2016

Good Friday

           Hari ini saya mendengar sebuah cerita nyata dari khotbah seorang Pendeta yang memiliki empat orang anak. Suatu hari, terjadi sebuah kekacauan di rumahnya. ia bertanya kepada ke empat anaknya mengenai siapa yang melakukan hal tersebut, tetapi tidak ada satu pun yang mengaku. Akhirnya ia dan istrinya memutuskan untuk menghukum ke empat anaknya dengan cara menyuruh mereka melompat tanpa henti hingga ada salah satu dari mereka yang mengakui kesalahannya. Anak sulungnya mulai kelelahan dan kesal karena tidak ada yang mau mengakuinya. Satu per satu mereka mulai berjatuhan, akhirnya Pendeta tersebut mengijinkan mereka beristirahat. Keesokan harinya belum ada juga yang mengaku, dua tiga hari berlalu tetapi mereka tetap diam. Tetapi kali ini ia dan istrinya tahu siapa yang bersalah. Akhirnya ia memutuskan untuk berbicara satu per satu kepada ke empat anaknya, tetapi yang paling ketakutan adalah anak bungsunya. Ia mengeluarkan sebuah ikat pinggang di depan anak bungsunya, tetapi anaknya bersembunyi di bawah meja. Ia tidak bermaksud untuk mencambuknya, ikat pinggang tersebut hanya untuk menakuti sang anak karena ia ingin anaknya mengakui kesalahannya dan kebenaran terungkap. Tiba-tiba anak sulungnya berkata "Ayah jangan pukul dia, biar aku saja yang dipukul". Ia berkata kepada ke dua anaknya bahwa tidak akan ada yang dihukum, yang ia inginkan hanyalah sebuah pengakuan. Akhirnya anak bungsunya mengakui kesalahannya sambil menangis dan ketakutandi hadapan ayahnya. Pendeta tersebut berkata kepada anak bungsunya "Sebagai gantinya, biarkan ibumu yang memukul ayah."
           Sering kali kita hidup seperti ini di hadapan Tuhan. Sebagai manusia yang berdosa kita tetap tidak mau mengakui kesalahan kita, meskipun sebenarnnya Tuhan tahu kita yang berbuat dosa. Terkadang kita tidak sadar bahwa yang kita butuhkan adalah pengakuan dosa dan pengampunan. Kita selalu bersembunyi dari hadapan Tuhan karena kita takut di hukum. Tuhan Yesus telah mati di atas kayu salib sebagai ganti dosa kita. Tidak ada satu hal pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, kita hanya perlu datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan mengaku dosa kita di hadapan-Nya. Salib adalah wujud nyata dari kasih-Nya kepada manusia, maka kita juga harus mewujudkan kasih itu kepada sesama kita. Tuhan Yesus memberkati 


Jumat, 04 Maret 2016

Bertumbuh dalam Anugerah (Part 4)

Teladan Sejarah
            Pertumbuhan didapat melalui teladan, pertumbuhan ada ketika kita setia dan mau untuk melewati masa sulit seperti Daniel. Daniel rela untuk hidup menurut Firman Allah, ia rela menerima semua konsekuensi yang timbul karenanya dan ia memegang prinsip sepenuh hati untuk tetap berpaut pada Allah. Daniel adalah orang yang senantiasa berdoa, baginya mengenal Allah berarti belajar untuk senantiasa hidup dalam hadiratNya, bahkan ia masih menggali Firman Allah di akhir hidupnya. Ketika kita menghargai kasihNya, maka kebaikanNya akan membawa kita untuk terus menghasilkan buah. Mungkin seringkali kita merasa gagal, seperti yang dialami oleh Petrus, namun melalui kegagalan itulah kita belajar dan bertumbuh. Petrus mengalami perubahan karakter sehingga ia menjadi “batu karang yang teguh”. Tuhan menggunakan cara yang berbeda untuk mendewasakan anak-anakNya, bahkan melalui banyak tantangan sekalipun. Timotius menghadapi tantangan orang muda dan ia harus bisa menguasai dirinya melawan godaan, meskipun banyak sekali hal yang menghambatnya untuk bertumbuh, namun Tuhan senantiasa memperlengkapinya dengan Roh Kudus sehingga ia mampu mengatasi kelemahannya dan tetap bertumbuh dalam anugerah.


Sabtu, 27 Februari 2016

Bertumbuh dalam Anugerah (Part 3)

Hidup Bersama
            Kita sebagai umat Kristen diciptakan untuk hidup bersama dalam sebuah komunitas yang disebut dengan “Gereja”, karena Gereja juga yang akan menolong kita untuk bertumbuh menjadi Kristen yang dewasa. Gereja ada bukan hanya sekedar tempat berkumpulnya orang-orang Kristen, lebih dari itu Tuhan telah menganugerahkan karunia Roh yang berbeda kepada setiap manusia, namun tujuannya sama, yaitu saling melayani dan mengasihi dalam Gereja sehingga kita sama-sama bertumbuh dan memuliakan Tuhan. Kasih tidak akan berarti apabila kita tidak mempraktekkannya, kita memerlukan saudara seiman untuk menunjukkan anugerah dan kuasaNya dalam hidup kita. Tak jarang kita menemui banyak masalah atau gesekan di antara saudara seiman kita dalam Gereja. Seperti yang telah kita ketahui bahwa besi menajamkan besi dan manusia menajamkan sesamanya, hal ini akan dialami oleh setiap orang sadar atau tidak. Oleh karena itu kita harus belajar untuk tidak  menutup hati kita terhadap orang-orang yang telah menolong kita untuk bertumbuh secara rohani, karena ketika kita menutup hati kita terhadap sesama Kristen, berarti kita juga menutup hati untuk Allah (1 Yohanes 4:20-21), maka kita gagal bertumbuh dalam anugerahNya.

Bertumbuh dalam Anugerah (Part 2)

Prinsip-prinsip Dasar
            Betumbuh dalam anugerah juga berarti kita hidup dalam takut akan Allah. Alkitab mengajarkan kita agar kita bertumbuh dalam ketakutan anak, yaitu kita bertumbuh dengan penuh kasih, hormat, sukacita, dan tetap gentar kepada Allah. Takut terhadap Allah akan menghilangkan rasa takut kita terhadap hal-hal lain yang menghadang hidup kita (Matius 10:26), selain itu akan menjaga kita dari perbuatan dosa dan menghasilkan integritas kita sebagai seorang Kristen. Untuk bisa bertumbuh dalam takut akan Allah kita harus memikirkan bahwa kita dipilih dan Ia yang memelihara hidup kita dengan penuh kasih, bahkan Ia menyerahkan nyawaNya untuk menyelamatkan kita. Ketakutan akan Allah adalah awal dari pertumbuhan rohani yang sejati dan kerinduan untuk mengenalNya adalah hal yang sangat penting, jika kita tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Allah itu berarti kita tidak bertumbuh sama sekali. Untuk itu kita harus menggunakan Firman Tuhan untuk menuntun kita (Mazmur 119:105) dan tetap beribadah kepada Allah agar kita bisa mendekat dan mengenalNya lebih dalam. Bertumbuh dalam anugerah juga berati kita harus memikul “Salib” karena salib mendemonstrasikan kasih Allah, dengan salib kita mengerti bahwa Ia sangat mengasihi kita melalui kematianNya. Jadi kita harus rela “dihancurkan” dan dibangun kembali dalam anugerahNya.

Sabtu, 20 Februari 2016

Bertumbuh dalam Anugerah (Part 1)

Kristus adalah Hidupku

            Setiap manusia pasti mengalami pertumbuhan dalam hidupnya, baik bertumbuh secara jasmani maupun rohani, bertumbuh dalam anugerah berarti menjadi Kristen yang dewasa dan serupa dengan Kristus, karena Ia adalah dasar yang benar maka kita harus menjadikannya sebagai fondasi pertumbuhan rohani kita. Ketaatan dan penundukan diri merupakan hal yang penting dalam hal ini, seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus selama menjadi manusia Ia juga taat dan tunduk pada Allah. Pada waktu di dunia, Tuhan Yesus juga mengalami kesulitan dan berbagai pencobaan dalam perjalananNya bertumbuh dalam anugerah, namun Ia berhasil mengatasi hal tersebut sehingga Ia mampu bertumbuh dalam perkenanan Allah (Roma 8:3). Bertumbuh dalam anugerah juga berarti bertumbuh dalam buah Roh Kudus (Galatia 5:22-23), bertumbuh melalui disiplin hidup dan meresponi setiap tantangan yang kita alami dengan anugerah. Untuk bisa bertumbuh dalam anugerah diperlukan pemahaman yang mendalam akan Alkitab dan hubungan yang intim dengan Allah melalui doa, karena melalui doa kita bisa mendapatkan kekuatan dari Allah (Roma 4:20), dan persekutuan dengan umatNya seperti yang dilakukan Tuhan Yesus di Bait Allah pada usia 12 tahun. Jika kita ingin bertumbuh, kita harus terus berusaha untuk menjadi serupa dengan Allah dan memulai untuk mengikuti teladan Tuhan Yesus. Bukanlah hal yang mudah untuk menjadi serupa dengan Allah, keberdosaan manusia membuatnya sulit untuk melakukan perubahan, Oleh sebab itu Tuhan sendiri yang akan menolong setiap kita untuk bertumbuh di dalam anugerah-Nya.

Senin, 08 Februari 2016

God Knows What's Best for You (Yesaya 55:8-9)
          Setiap orang pasti memiliki harapan dalam hidupnya, namun terkadang sebagai manusia kita terlalu memaksakan kehendak kita kepada Tuhan dan berusaha menyetirNya. Apabila kenyataan tidak berjalan sesuai harapan, maka kita menjadi kecewa kepada Tuhan. Ayat ini kembali mengingatkan saya bahwa rencana Tuhan bukanlah rencana manusia, sebaik dan sesempurna apapun saya merencanakan sesuatu, tetap kehendakNya lah yang akan terjadi. Rencana Tuhan lebih tinggi dari apapun dan tidak ada seorangpun yang dapat menyelami fikiranNya. Saya belajar untuk tidak menyalahkan Tuhan dalam setiap keadaan yang terjadi dalam hidup saya meskipun terkadang itu tidak sesuai dengan harapan saya. 
           Suatu ketika saya mengikuti tes di sebuah perguruan tinggi swasta, namun karena saya tidak begitu berminat maka saya hanya mengerjakannya asal-asalan. Sebelumnya saya telah berencana untuk mendaftar di sebuah perguruan tinggi negeri Surabaya, saya telah mempersiapkan nilai raport saya mulai dari kelas 10, saya berusaha agar nilai saya semakin baik hingga saya lulus nanti, dan ini berhasil. Hal ini saya lakukan karena perguruan tinggi negeri yang saya inginkan memiliki salah satu syarat yaitu nila raport SMA harus stabil bahkan terus naik. Namun yang terjadi adalah saya tidak diterima di PTN tersebut, sebaliknya saya diterima dimana saya menjalani tes dengan asal-asalan. Saya sempat tidak percaya dengan hasilnya (baik di PTN maupun PTS) karena di satu sisi saya telah melakukan yang terbaik sedangkan di sisi yang lain saya melakukannya dengan asal-asalan. Namun kembali lagi saya menyadari bahwa rencana Tuhan bukan lah rencana manusia. Saya belajar untuk tetap mempercayaiNya dalam segala hal, tetap bersyukur dan tidak kecewa kepadaNya karena rencana Tuhan pasti yang terbaik. Mungkin saya memang belum memahami dengan betul apa yang sedang Ia kerjakan dalam hidup saya, namun satu hal yang saya percaya, Ia akan memberikan yang terbaik untuk hidup saya. 

 

Sabtu, 30 Januari 2016



Happiness vs Joy

Banyak orang, atau lebih tepatnya semua orang mencari yang namanya kebahagiaan. Ada satu kisah tentang seorang bernama Agustinus Hippo yang mengalami pergumulan hebat, yaitu keinginannya mencari kebahagiaan sejati yang memberi kedamaian. Dalam perjalanannya mencari kebahagiaan, ia melakukan banyak sekali kesalahan. Ia menganggap bahwa ia bisa mendapatkan kebahagiaan di dalam dunia ini. Ia mulai hidup dengan bersenang-senang, ia mencuri, terlibat dalam kenakalan remaja, memiliki gaya hidup yang hedonisme, dan juga sempat mengikuti berbagai aliran filsafat, bahkan di usianya yang masih muda ia hidup dengan wanita yang bukan istrinya hingga mempunyai seorang anak.
Sampai suatu saat ia bertemu dengan Ambrosius yang mempengaruhi hidupnya dan Roh Kudus datang kepadanya melalui suara seorang anak kecil di taman (ia percaya bahwa itu adalah suara Tuhan), Roh Kudus membukakan fikirannya bahwa kebahagiaan sejati tidak bisa ia temukan di dalam dunia ini melainkan Kristus. Ia menyadari bahwa yang ia lakukan selama ini hanyalah sia-sia karena ia tidak menemukan kedamaian yang ia cari. Agustinus mulai berkomitmen untuk memutuskan hubungannya dengan dunia ini dan mulai mencari Tuhan, ia memutuskan melayani Tuhan sampai akhir hidupnya. Kisahnya ini menginspirasi banyak orang termasuk saya sendiri.
Dalam hidup ini sering kali manusia berfikir bahwa apabila ia bisa melakukan segala sesuatu yang menyenangkan di dunia ini maka ia akan mendapatkan kebahagiaan, kita menganggap bahwa kebahagiaan itu berasal dari dunia. Padahal yang sebenarnya kita butuhkan adalah kita bisa merasakan kasih Tuhan yang begitu nyata dalam hidup kita. Ketika kita tinggal dalam persekutuan yang intim dengan Tuhan maka segala kebahagiaan yang kita cari akan kita temukan di dalamNya. Ada satu ruang kosong dalam hati kita yang hanya bisa diisi oleh kasih Tuhan, ketika kita berusaha mengisinya dengan hal dunia, maka saat itulah kita melakukan hal yang sia-sia.
Kebahagiaan berbeda dengan sukacita. Dalam bahasa Inggris kebahagiaan = HAPPINESS sedangkan sukacita = JOY. Apa yang membedakan ? bukankah keduanya terlihat sama ? Kebahagiaan/happiness adalah hal yang sementara (temporary) sedangkan sukacita adalah kebahagiaan sejati (eternal). Ketika kita mendapat kepuasan dari dunia itu berarti sementara dan terbatas, tetapi ketika kita mencari dan mendapat kebahagiaan dalam Tuhan maka hati kita akan terasa damai dan kita tidak perlu lagi mencari kebahagiaan dalam dunia yang terbatas ini, because Christ is more than enough for us.
Tuhan dapat memakai segala cara untuk membawa kita dekat kepadaNya. Ketika Tuhan membuat hati seseorang berbalik kepadaNya, maka kebutaan rohani akan dibukakan, bahwa kebenaran dan kebahagiaan sejati hanya ada dalam Yesus Kristus. Gbu